Study Technical Analysis

Jenis chart (grafik) ada 4 bentuk, diantaranya :

Line Chart (Grafik garis)

Adalah bentuk grafik yang asli, terdiri dari garis yang menghubungkan harga – harga yang terbentuk untuk kurun waktu tertentu.

Bar Chart (Grafik Batang)

Adalah grafik yang paling populer dan umum digunakan, memuat 4 komponen utama.

 

Candlestik Chart (Grafik Lilin)

Dikembangkan oleh orang Jepang sekitar tahun 1750 dan baru menjadi terkenal diantara trader non Asia diawal tahun 1980an. Hampir sama dengan bar chart hanya lebih memudahkan untuk dilihat.

Trend (Arah) dan Trend Line

Trend merupakan gambaran terpenting dari technical analysis. Trend adalah “sahabat kita”, dari pengalaman pasar yang amat penting trend/arah harus benar-benar diamati dan diperhatikan. Trend secara sederhana menunjukkan arah dari pergerakkan pasar, trend bisa berupa :

Up Trend / Bullish (Trend Naik)Down Trend / Bearish (Trend Turun)
  
Sideway Trend / Range TradingTrend Line (Garis Trend)
  
Triple TopsTriple Bottoms
Bullish FlagBearish Flag
Bullish Symmetrical TriangleAscending Triangle
Descending TriangleExpanding Triangle

 

Falling Wedge FormationRising Wedge Formation
Bullish FlagBearish Rectangle
Moving Average Line
Simple Moving Average 20
Simple Moving Average 4, 9, 18
Simple Moving Average 15
& Exponential Moving Average 5 
 

Analisa teknikal

Analisa teknikal adalah terminologi yang kompleks untuk metode yang paling dasar dalam investasi. Secara sederhana, analisa teknikal adalah studi harga dengan menggunakan grafik sebagai alat utama.

Asal – usul dari analisa teknikal yang di gunakan saat ini berasal dari Dow Theory, asal – usul ini mencakup prinsip – prinsip seperti tren harga, harga melakukan diskon pada semua informasi yang diketahui, konfirmasi dan penyimpangan (divergence), volume mencerminkan perubahan harga, dan dukungan tahanan (support / resistance).

Analisa teknikal pertama kali di temukan oleh Charles Dow, dan sumbangan Charles Dow dalam analisa teknikal yang digunakan saat ini tidak dapat diabaikan. Perhatiannya pada dasar – dasar gerakan harga menciptakan metode yang betul – betul baru dalam menganalisa pasar.

Apabila memakai indikator sebagai panduan / prediksi kapan keluar atau masuk pasar, kita menyarankan untuk melihat 2 atau 3 indikator lagi apakah sama atau tidak. Indikator akan lebih akurat apabila 1 sampai 3 indikator bersamaan mengeluarkan sinyal yang sama. Karena didalam 1 indikator terdapat 1 rumus yang diciptakan oleh 1 orang, berarti apabila ada 3 orang yang berbicara sama alangkah lebih bagusnya.

Dibawah ini menjelaskan beberapa indikator – indikator yang biasanya dipakai oleh sebagian besar para trader didalam menganalisa dan melakukan transaksi :

  1. Moving Average Convergence Divergence (MACD).

Moving Average Convergence Divergence (MACD) adalah formulasi teknikal analisa yang pertama kali dikembangkan oleh Gerald Appel. Bagi banyak pemain pasar, MACD juga dikatakan sebagai salah satu alat analisa yang paling sederhana dan cukup handal digunakan dalam mengambil keputusan selama perdagangan. berbeda dengan alat analisa yang telah kita bahas sebelumnya, yaitu Moving Average (MA). Hanya bedanya kalau dalam analisa MA langsung kita analisa sebagai indikator kenaikan ataupun penurunan harga, dalam analisa MACD, output yang dihasilkan oleh MA tidaklah langsung dapat di analisa, namun terlebih dahulu, mengolahnya sebelum dijadikan sebuah indikator momentum yang akan mengindikasikan perubahan trend harga.

MACD biasa dipakai untuk pergerakan harga yang agak lebih cepat atau panjang, karena typical dari indikator ini adalah mengejar atau mengikuti arah harga yang bergerak. MACD ini sangatlah bagus sekali apabila dipakai untuk pergerakan harga yang terbilang extreem / trend.

Parameter standart yang digunakan MACD (12,26,9). Ada 3 garis didalam indikator ini, yaitu :

Garis MACD (Fast EMA = 12, Slow EMA = 26, MACD SMA = 9)
Garis Sinyal
Garis Tengah atau Nol
Cara membaca atau memakainya adalah :

Apabila garis MACD dan garis Sinyal berada dibawah garis Tengah atau Nol berarti trend pasar masih kuat bearish / turun, begitu juga sebaliknya apabila garis MACD dan garis Sinyal berada diatas garis Tengah atau Nol berarti trend pasar masih kuat bullish.
Untuk short term apabila garis MACD memotong keatas garis Sinyal maka indikator ini mempunyai sinyal buy (beli), begitu juga sebaliknya apabila garis MACD memotong kebawah garis Sinyal maka indikator ini mempunyai sinyal sell (jual).

  1. Relative Strength Index (RSI).

Indikator Relative Strength Index (RSI) ini menghitung perbandingan antara jumlah permintaan dan penawaran dalam pasar, yang di terjemahkan kedalam indikator yang mempunyai selang penilaian antara 0% – 100%. Beberapa informasi yang dapat kita peroleh dari analisa dengan menggunakan RSI adalah kapan saatnya market ini mengalami jenuh jual / over sell dan kapan saatnya market ini di titik jenuh beli / over buy.

Standart RSI yang biasanya dipakai adalah RSI 14 dan RSI 9, maksudnya rata – rata RSI selama 14 hari atau rata – rata RSI selama 9 hari, apabila time frame atau hari yang digunakan semakin kecil berarti sinyal semakin lebih cepat, tetapi resiko juga lebih besar, begitu juga sebaliknya apabila terlalu besar sinyal akan semakin lama keluar.

Batas – batasnya adalah :

Jenuh jual / over sell berada dibawah level 20% atau 30% (tergantung software grafik apa yang dipakai), apabila dilevel tersebut berarti indikator ini menyatakan signal buy (beli).
Jenuh beli / over buy berada diatas level 70% atau 80% (tergantung software grafik apa yang dipakai), apabila dilevel tersebut berarti indikator ini menyatakan signal sell (jual).

  1. Stochastic Oscillator.

Stochastic Oscillator adalah sebuah alat analisa yang dikembangkan pertamakali oleh George C. Lane pada akhir 1950-an. Alat analisa ini adalah salah satu momentum oscillator yang menunjukkan posisi close pada saat ini (current) terhadap posisi close beberapa waktu lalu. Closing level yang konsisten berada pada kondisi puncak (peak) mengindikasikan terjadinya accumulation (buying pressure), sedangkan sebaliknya closing level yang konsisten berada pada bottom (bawah), mengindikasikan terjadinya distribusi (selling pressure).

Pemahaman indikator ini hampir sama dengan indikator RSI, indikator ini sebagai penunjang dari indikator RSI. Standart Stochastic Oscillator yang biasanya dipakai adalah Stochastic Oscillator (5,3,3) dan Stochastic Oscillator (7,5,5), maksudnya %K = 5 atau 7, %D = 3 atau 5, Slow = 3 atau 5, apabila time frame atau hari yang digunakan semakin kecil berarti sinyal semakin lebih cepat, tetapi resiko juga lebih besar, begitu juga sebaliknya apabila terlalu besar sinyal akan semakin lama keluar.

Cara membaca dan batas – batasnya adalah :

Jenuh jual / over sell berada dibawah level 10% atau 20% (tergantung software grafik apa yang dipakai), apabila dilevel tersebut berarti indikator ini menyatakan signal buy (beli). Lebih dinyatakan signal buy apabila garis fast stochastic oscillator (%K & %D dalam rumus) memotong keatas garis slow stochastic oscillator.
Jenuh beli / over buy berada diatas level 80% atau 90% (tergantung software grafik apa yang dipakai), apabila dilevel tersebut berarti indikator ini menyatakan signal sell (jual). Lebih dinyatakan signal sell apabila garis fast stochastic oscillator (%K & %D dalam rumus) memotong kebawah garis slow stochastic oscillator.

  1. William %R

Indikator ini diciptakan oleh Larry Williams, yang pada umumnya digunakan pada bursa saham atau dalam pergerakan – pergerakan harga yang sangat cepat. Indikator ini adalah pelengkap atau penyempurnaan dari indikator RSI karena memakai rumus %R.

Membaca indikator ini hampir sama dengan indikator RSI, perbedaannya William %R lebih cepat mengeluarkan signal, karena cepat munculnya signal, terkadang signal yang muncul adalah signal palsu. Memakai indikator ini disarankan dengan parameter atau periode yang agak lama.

Parameter atau periode yang dipakai standart adalah William %R (18), adapun batasan – batasannya adalah :

Jenuh jual / over sell berada dibawah level -90% (tergantung software grafik apa yang dipakai), apabila dilevel tersebut berarti indikator ini menyatakan signal buy (beli).
Jenuh beli / over buy berada diatas level -10% (tergantung software grafik apa yang dipakai), apabila dilevel tersebut berarti indikator ini menyatakan signal sell (jual).

  1. Momentum

Indikator ini termasuk salah satu indikator yang memberi signal trend harga secara dini atas pengurangan momentum yang diikuti dengan berakhirnya trend atau perubahan arah.

Indikator ini mempunyai 2 garis yaitu garis momentum dan garis tengah atau garis nol atau 100 (tergatung software grafik apa yang dipakai). Apabila garis momentum memotong naik garis nol atau 100 maka bisa dikatakan bahwa trend tersebut berubah menjadi trend up atau naik, begitu juga kebalikannya, apabila garis momentum memotong turun garis nol atau 100 maka bisa dikatakan bahwa trend tersebut berubah menjadi trend down atau turun.

Parameter atau periode yang biasa atau standart dipakai adalah Momentum (14).

Jenuh jual / over sell berada dibawah level 10% atau 20% (tergantung software grafik apa yang dipakai), apabila dilevel tersebut berarti indikator ini menyatakan signal buy (beli). Lebih dinyatakan signal buy apabila garis fast stochastic oscillator (%K & %D dalam rumus) memotong keatas garis slow stochastic oscillator.
Jenuh beli / over buy berada diatas level 80% atau 90% (tergantung software grafik apa yang dipakai), apabila dilevel tersebut berarti indikator ini menyatakan signal sell (jual). Lebih dinyatakan signal sell apabila garis fast stochastic oscillator (%K & %D dalam rumus) memotong kebawah garis slow stochastic oscillator.

  1. Commodity Channel Index (CCI).

Commodity Channel Index (CCI) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur berbagai harga dari rata – rata statistiknya. Nilai yang tinggi menunjukkan harga yang secara tidak normal lebih tinggi dari harga rata – rata, sementara nilai yang rendah menunjukkan harga yang secara tidak normal lebih rendah dari harga rata – rata. Informasi yang dapat kita peroleh dari analisa ini kurang lebih sama dengan apabila kita menggunakan analisa RSI yaitu informasi tentang kejadian over buy / over sell.

Indikator ini lebih akurat lagi apabila kita membacanya memakai garis tengah atau nol. Apabila garis CCI memotong naik garis tengah atau nol mengindikasikan signal buy (beli), begitu juga kebalikannya, apabila garis CCI memotong turun garis tengah atau nol mengindikasikan signal sell (jual).

Parameter atau periode standart yang digunakan adalah CCI (14).

  1. Directional Movement Index (DMI).

Adalah alat analisa yang digunakan untuk mengidentifikasi terdapat trend dalam sebuah saham. DMI pada dasarnya adalah alat analisa yang digunakan untuk membandingkan +DI (Directional Indikator) 14 hari, dan -DI dengan periode yang sama. Interpretasi sederhana dari penggunaan DMI adalah :

Double bottom buy adalah apabila sebuah harga ketika harga menembus batas bawah (lower band) dan tetap berada diluar batas bawah pada periode berikutnya
Double top sell adalah apabila sebuah harga ketika menembus batas atas (upper band) dan tetap berada di luar batas atas pada periode berikutnya
Pada saat terjadi penyempitan band perhatikan harga breakout setelah keluar dari masa konsolidasi biasanya akan terjadi lonjakan harga yang signifikan.

  1. Ichimoku Kinko Hyo

Indikator ini adalah indikator tambahan saja, sebagai indikator pembanding dari indikator – indikator yang ada. Indikator ini bisa menggambarkan atau memprediksikan harga dengan diproyeksikan.

Didalam indikator ini terdapat 3 garis yaitu : garis Tenkan Sen, garis Kijun Sen, garis Chinkou Span. Dan proyeksinya itu bernama proyeksi Kumo.

Menganalisa dengan indikator ini adalah yang sangat penting kita melihat 2 garis saja yaitu : garis Tenkan Sen dan garis Kijun Sen.

Apabila garis Tenkan Sen memotong keatas garis Kijun Sen berarti signal buy (beli), begitu juga sebaliknya apabila garis Tenkan Sen memotong kebawah garis Kijun Sen berarti signal sell (jual).

Parameter atau periode standart yang dipakai adalah Ichimoku Kinko Hyo (9,26,52), maksudnya :

Garis Tenkan Sen = 9 hari
Garis Kijun Sen = 26 hari
Garis Senkou Span B = 52 hari

  1. Zig Zag

Indikator ini dipakai untuk gelombang naik turun suatu harga yang diproyeksikan dengan model Zig Zag, karena pergerakan suatu harga tidak mungkin hanya 1 arah saja (kalau naik, naik terus tidak ada turunnya sama sekali, begitu juga sebaliknya), pergerakan suatu harga itu pasti ada naik dan turunnya karena adanya permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar.

Indikator ini memberikan signal kapan kita harus beli dan kapan kita harus jual, indikator ini tidak berlaku atau tidak bisa digunakan pada pergerakan harga trend tetapi lebih bagus kalau digunakan pada saat harga sideway atau range trading.

  1. Bollinger Bands

Bollinger Band adalah indikator yang dapat membantu penggunanya untuk membandingkan volatility dan harga relatif dalam satu periode analisa. Bollinger band terdiri dari 3 garis utama. Garis teratas di namakan upper band, garis tengah di namakan middle band dan yang paling bawah disebut lower band. Middle band sendiri sebenarnya adalah simple moving average. dan upper dan lower band adalah 2 kali standar deviasi dari middle band.

Bollinger Bands ini bisa dijadikan acuan untuk range atau target. Apabila harga bergerak cepat keatas, biasanya lower band akan membuka atau kearah bawah berarti harga masih tetap extrem atau masih melanjutkan kenaikannya, apabila lower band sudah mulai menutup lagi kearah harga yang update berarti pergerakan naiknya sudah normal atau sideway atau berubah arah turun. Begitu juga apabila harga bergerak cepat kebawah, biasanya upper band akan membuka atau kearah atas berarti harga masih tetap extrem atau masih melanjutkan penurunannya, apabila upper band sudah mulai menutup lagi kearah harga yang update berarti pergerakan turunnya sudah normal atau sideway atau berubah arah naik lagi.

Parameter atau periode standart yang dipakai adalah Bollinger Bands (20).

  1. Parabolic SAR

Metode ini diperkenalkan oleh J. Welles Wilder, indikator ini salah satu indikator trend juga. Membacanya sangatlah mudah, indikator ini berupa titik. Apabila titik ini berada diatas garis atau candle chart berarti boleh dibilang harga pasar sedang atau mau jatuh, begitu juga kebalikannya apabila titik ini berada dibawah garis atau candle chart berarti boleh dibilang harga pasar sedang atau mau naik.

Parameter atau periode standart yang dipakai adalah Parabolic SAR (0.02,0.2), yang artinya :

Step = 0.02
Max. = 0.2

Teori Tentang Gap
Teori Gap adalah daerah pada chart dimana tidak terjadi trading jadi tidak ada overlapping dalam harga pada suatu trading session ke trading session yang lain.
Jika gap terjadi pada pembukaan pasar yang lebih rendah maka disebut Downside Gap dan sebaliknya, jika merupakan hasil dari pembukaan pasar yang lebih tinggi di sebut Upside Gap.

Gap sangat berguna untuk mengidentifikasi :

> Pasar dalam keadaan konsolidasi mendatar

> Titik awal dari trend yang baru

> Kelanjutan dari pergerakaan yang dinamis

> Berhentinya sebuah trend

Ada 4 kategori gap yaitu :

Common Gap

Gap ini kurang berarti, ini terjadi karena adanya ketidang seimbangan antara posisi buy dan sell di market. Gap ini cepat tertutup kembali. Gap ini biasanya terjadi pada saat konsolidasi jika beberapa gaps terjadi dalam satu konsolidasi, itu sebagai tanda bahwa pecahnya konsolidasi akan terjadi searah dengan trend utamanya { major trend }.

Breakaway Gap

Breakaway Gap adalah gap yang terjadi pada titik akir dari suatu konsolidasi atau reversal Pattern. Dengan terjadinya Breakaway Gap sebagai tanda konfirmasi dari pattern validity, dengan perkataan lain jika Breakaway Gap terjadi maka pattern yang ada jarang sekali meleset. Gap ini tidak sepenuhnya dapat tertutup kembali.

Runaway Gap

Runaway Gap muncul setelah trend terbentuk dan jika pergerakaanya kelihatan lebih cepat. Ini merupakan tanda { yang boleh dikatakan pasti } dari keinginan kuat para trader yang sedang menunggu kesempatan untuk masuk atau keluar {tergantung dari posisi masing-masing }dan sedang melihat bahwa pasar menjauh dari mereka, kemudian memberikan respons dengan membeli atau menjual.

Runaway Gap bisa terjadi pada saat harga bergerak tajam (ke atas atau kebawah) setelah pecah dari konsolidasi. Gap ini tidak pernah akan tertutup kembali.

Exhaustion Gap

Exhaustion Gap sering terjadi pada tahap akhir dari pergeraan harga, khususnya terjadi pada pagi hari dimana pergerakan berkembang sehingga mencapai harga extreem. Gap ini dengan segera akan mengarah ke bentuk island { Island Formation }.

Island formation terbentuk dari suatu hari atau lebih yang dipisahkan oleh 2 gaps pada level yang sama. gap yang pertama adalah Exhaustion gap dan yang kedua adalah Breakaway Gap. Gap ini akan tertutup dengan cepat.

Pivot Point Trading

Anda pergi untuk mencintai ini pelajaran menunjuk poros menggunakan sebagai strategi berdagang sekitar untuk waktu panjang dan mula – mula digunakan oleh pedagang di pasar. Ini adalah jalan sederhana baik untuk pedagang di pasar, gagasan beberapa di mana pasar memimpin selama beberapa hari dengan hanya perhitungan yang sederhana dan sedikit.

Pivot Point Trading adalah level yang mana perubahan arah pasar untuk setiap harinya, ilmu hitung sederhana yang menggunakan tinggi harga sehari sebelum, rendah dan akhir, rentetan tersebut dapat memperoleh harga / level kuat / kritis / level perlawanan. Semua level – level tersebut dapat dihitung dari rumus pivot point.

Formula dari pivot point adalah :

Resistance 3 = High + [ 2 X (Pivot – Low)]
Resistance 2 = Pivot + (R1 – S1)
Resistance 1 = 2 X (Pivot – Low)
Pivot Point = ( High + Close + Low ) / 3
Support 1 = 2 X (Pivot – High)
Support 2 = Pivot – (R1 – S1)
Support 3 = Low – [ 2 X (High – Pivot)]

Retracement dalam grafik ada 2 macam :

Fibonancci Retracement Metode ini dipakai untuk melihat rebound level harga setelah terjadi pergerakan harga yang sangat extrem atau drastis.
Gan Retracement Metode ini digunakan para analis untuk mengetahui target proyeksi rebound dari suatu harga tertinggi atau terendah. 

Pola Devergence ada 2 yaitu :

Bearish Devergence Biasanya pola ini berada di indikator dan grafik harga, dikatakan bearish devergence apabila pada indikator terdapat pola menurun sedangkan pada grafik harga terdapat pola naik. Hasil atau akibat pada harga adalah harga tersebut mengikuti pola indikator yaitu harga tersebut akan jatuh atau turun.
Bullish Devergence Pola ini berada di indikator dan grafik harga, dikatakan bullish devergence apabila pada indikator terdapat pola naik sedangkan pada grafik harga terdapat pola menurun. Hasil atau akibat pada harga adalah harga tersebut mengikuti pola indikator yaitu harga tersebut akan naik.